Project Luar
Kelas
Character Building Agama
WAWANCARA
TOKOH AGAMA
Toleransi Beragama di Indonesia
Identitas Kelompok
Nim
|
Nama
|
Jabatan (ketua,
sekertaris, anggota)
|
2001619241
|
Dicky
Darmawan
|
Ketua
|
2001616946
|
Raditya
Ayu Wirastari
|
Sekretaris
|
2001564690
|
Achya
Syahputra
|
Anggota
|
2001625692
|
Kevin
Susanto
|
Anggota
|
2001591634
|
M.
Fachri Putra Henri
|
Anggota
|
2001596295
|
Pradiptha
Wahyu Ihsandy
|
Anggota
|
2001556700
|
Renaldo
|
Anggota
|
2001598905
|
Saifuddin
Zuhri. A
|
Anggota
|
2001597745
|
Achmad
sultan akbar
|
Anggota
|
Kelas
|
LE 01
|
BINUS UNIVERSITY
2017
HALAMAN PENGESAHAN PROPOSAL
Project Luar Kelas Character Buliding Agama
1.
|
Judul
Project
|
:
Toleransi Beragama di Indonesia
|
2.
|
Lokasi
Project
|
|
3.
|
Target
Kegiatan
|
Ø Biarawan (Buddha
Maitreya)
Ø Pemangku (Hindu)
Ø Ustad (Islam)
|
4.
|
Nama
Anggota Kelompok
|
|
5.
|
Mata
Kuliah
|
:
( CHAR6015 ) Character Building Agama
|
6.
|
Kelas
|
:
LE 01
|
7.
|
Dosen
|
BAB
I
PENDAHULUAN
Ø
Latar Belakang
Toleransi beragama memiliki
arti sikap lapang dada seseorang untuk menghormati dan membiarkan pemeluk agama
untuk melaksanakan ibadah mereka menurut ajaran dan ketentuan agama
masing-masing yang diyakini tanpa ada yang mengganggu atau memaksakan baik dari
orang lain maupun dari keluarganya sekalipun. Indonesia sejak lahirnya memiliki
beragam latar belakang: budaya, bahasa, suku, etnis, tradisi, dan agama.
Tidaklah berlebihan jika para founding fathers kita memutuskan untuk menjadikan
Pancasila sebagai falsafah dan dasar negara. Jiwa dan kepribadian bangsa
Indonesia amat sangat cocok dengan Pancasila. Sebaliknya Pancasila satu-satunya
prinsip berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat yang paling tepat bagi negara kita.
Sila pertama dengan tegas mengatakan bahwa Indonesia memiliki dasar Ketuhanan
Yang Maha Esa. Yang dimaksud dengan Ketuhanan adalah bangsa Indonesia, apapun
agama dan kepercayaannya, percaya dan mengimani bahwa Tuhan itu ada dan
berdaulat bagi negara ini. Sedangkan Yang Maha Esa berarti umat beragama di
Indonesia sama-sama mengakui dan mengimani bahwa ada satu Tuhan yang Maha
Kuasa, Maha Adil, Maha Suci, Maha Benar, dan Maha Kasih yang patut dijunjung
tinggi oleh semua umatNya. Dengan demikian, konflik antar umat beragama harus
segera diakhiri karena tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Pancasila.
Ø
Permasalahan
Penistaan terhadap agama
apapun tidak dibenarkan di bumi kita yang tercinta ini. Intoleransi dalam
bentuk apapun harus dihapus apalagi dikobarkan oleh ormas-ormas yang memakai
agama sebagai alat menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Toleransi
beragama bukan pelajaran/teori dalam buku teks tetapi lebih kepada sikap dan
perilaku beragama dan kepercayaan terhadap sesama umat beragama yang lainnya. Bagaimana
agar toleransi umat beragama dapat terjalin dengan baik? Harus dimulai dari
para pemimpin/tokoh agama yang menjadi panutan umatnya. Pemimpin agama haruslah
menjadi teladan dalam sikap, perkataan, dan perbuatan.
Ø
Rencana Kegiatan
Supaya toleransi beragama dapat terjalin dengan
baik, harus dimulai dari pemimpin/tokoh agama nya. Ada sebuah kutipan yang
berbunyi “Disiplin datang dari atas”, maksud dari kutipan ini adalah orang
dengan kedudukan tertinggi sudah pasti dijadikan standar/contoh berperilaku
oleh pengikut/bawahannya. Kutipan ini juuga berlaku pada pemimpin/tokoh agama
dan pengikutnya. Maka dari itu, rencana dari kegiatan kami adalah melakukan
survey dengan cara mewawancarai 3 tokoh agama yang berbeda. Tokoh beragama
tersebut merupakan seorang biarawan dari Pusdiklat Agama Buddhis Maitreya,
seorang Pemangku dari Pura Adhitya dan seorang Pastur/Romo dari Gereja Katolik
Bunda Maria Karmel. Wawancara ini diharapkan dapat membantu mengukur toleransi
umat beragama di Indonesia.
BAB II
METODE KEGIATAN
2.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Tempat
yang akan dilakukan oleh kami adalah sebagai berikut :
1.
Tempat : Salah satu tempat ibadah di
Jakarta untuk masing masing agama
2.2 Metode Wawancara
Dalam kegiatan
wawancara, kita akan merangkum kegiatan kegiatan yang meliputi :
a. Membuat
pertanyaan
Dalam membuat pertanyaan, kami akan
menanyakan pertanyaan – pertanyaan yang berkaitan dengan toleransi antar agama
di Indonesia.
b. Menentukan
tokoh agama
Untuk memperoleh
informasi yang akurat, kita perlu mencari narasumber yang benar yaitu
tokoh-tokoh untuk masing masing agama seperti ustadz untuk agama islam, biksu
untuk agama Buddha, pendeta untuk agama Kristen, pastor untuk agama katolik dan
tokoh agama lainnya.
c. Menentukan
tanggal wawancara
Setelah membuat pertanyaan dan menentukan narasumber, kami mulai menentukan
tanggal wawancara bersama narasumber dengan tanggal yang sudah ditentukan baik
dari kelompok kami maupun dari narasumber.
d. Melaksanakan
wawancara
Setelah menentukan tanggal, kami mulai
melaksanakan wawancara dengan narasumber dan mencatat semua jawaban yang
diberikan oleh narasumber.
e. Mencatat
kembali jawaban
Untuk membuat
laporan, kami perlu mencatat kembali jawaban dalam bentuk dokumen yang sudah
diketik lalu di print.
BAB III
KONSEP
Pengertian
agama secara singkat adalah sebuah kepercayaan manusia kepada Sang Pencipta
Nya. Dengan demikian, maka seseorang yang beragama pasti akan selalu berbuat
kebaikan, karena mereka tahu bahwa semua perilaku akan dipertanggungjawabkan di
hadapan Tuhan. Oleh Karena hal tersebut, maka seseorang dianjurkan memeluk
agama agar berperilaku terpuji sesama umat manusia.
Agama yang pada hakekatnya keyakinan akan adanya Tuhan yang tidak bisa
dipisahkan dari kehidupan manusia, maka sangat perlu dipahami secara seksama
oleh setiap manusia.Dalam uraian ini akan kemukakan pengertian agama, hubungan
agama dengan manusia, manfa’at agama, klasifikasi agama,dan agama Islam.Agama
merupakan kebutuhan (fitrah) manusia. Berbagai pendapat mengenai kefitrian agama
ini dapat dikaji pada beberapa pemikiran.
3.1
Definisi Agama
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Agama adalah
sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan
Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan
manusia serta lingkungannya.
Istilah agama sendiri adalah suatu istilah yang berasal dari
bahasa Sanskerta Istilah agama sebenarnya berasal dari bahasa Sansekerta yang
bermakna tradisi atau “a” yang bermakna tidak dan “gama” bermakna kacau.
Sehingga agama bisa diartikan sebagai tidak kacau. Selain itu, agama juga bisa
diartikan sebagai suatu peraturan yang bertujuan untuk mencapai kehidupan
manusia ke arah dan tujuan tertentu. Agama dilihat sebagai kepercayaan dan pola
perilaku yang dimiliki oleh manusia untuk menangani masalah. Agama adalah suatu
sistem yang dipadukan mengenai kepercayaan dan praktik suci. Agama adalah
pegangan atau pedoman untuk mencapai hidup kekal. Agama adalah konsep hubungan
dengan Tuhan.
Istilah asing lainnya yang mempunyai pengertian sama dengan
agama adalah religi yang berasal dari bahasa latin “religio” dan berakar pada
kata kerja “re-ligare” yang memiliki arti “mengikat kembali”. Mengikat di sini
maksudnya yaitu dengan ber-religi maka seseorang akan mengikat dirinya kepada
Tuhan.
Sementara itu definisi mutlak dari agama dalam wacananya
agak mengalami kesulitan tersendiri, bahkan hampir mustahil untuk dapat
mendefinisikan agama yang bias diterima atau disepakati semua kalangan. Untuk
itu setidaknya ada tiga cara pendekatan yaitu segi fungsi, institusi, dan
subtansi.
Para ahli sejarah, cenderung mendefinisikan agama sebagai suatu institusi historis. Para ahli di bidang sosiologi dan antropologi cenderung mendefinisikan agama dari sudut fungsi sosialnya. Pakar teologi, fenomenologi, dan sejarah agama melihat agama dari aspek substansinya yang sangat asasi yaitu sesuatu yang sakral. Pada hakikatnya ketiga pendekatan itu tidak saling bertentangan, melainkan saling melenyempurnakan dan melengkapi, khususnya jika menginginkan agar pluralism agama didefinisikan sesuai kenyatan objektif di lapangan.
Para ahli sejarah, cenderung mendefinisikan agama sebagai suatu institusi historis. Para ahli di bidang sosiologi dan antropologi cenderung mendefinisikan agama dari sudut fungsi sosialnya. Pakar teologi, fenomenologi, dan sejarah agama melihat agama dari aspek substansinya yang sangat asasi yaitu sesuatu yang sakral. Pada hakikatnya ketiga pendekatan itu tidak saling bertentangan, melainkan saling melenyempurnakan dan melengkapi, khususnya jika menginginkan agar pluralism agama didefinisikan sesuai kenyatan objektif di lapangan.
Memang sangat tidak mudah untuk
menguraikan pengertian dan definisi dari agama. Itu sebabnyapengertian agama
menurut para ahli banyak mengalami perselisihan dan perbedaan.Namun pengertian agama menurut para ahli
tetap patut untuk kita pelajari. Hal tersebut bisa kita jadikan sebagai
referensi dalam memahami konsep agama.
3.2
Ciri-Ciri agama
Pada setiap agama mempunyai sasaran
atau tujuan penyembahan atau Sesuatu Yang Ilahi dan disembah. Ia bisa disebut
TUHAN, Allah, God, Dewa, El, Ilah, El-ilah, Lamatu’ak, Debata, Gusti Pangeran,
Deo, Theos atau penyebutan lain sesuai dengan konteks dan bahasa masyarakat
[bahasa-bahasa rakyat] yang menyembah-Nya.
Pada setiap agama ada keterikatan kuat
antara yang menyembah [manusia] dan yang disembah atau Ilahi. Ikatan itu
menjadikan yang menyembah [manusia, umat] mempunyai keyakinan tentang
keberadaan Ilahi.
Pada umumnya, setiap agama ada
sumber ajaran utama [yang tertulis maupun tidak tidak tertulis].
Ajaran-ajaran agama dan keagamaan
tersebut, pada awalnya hanya merupakan uraian atau kalimat-kalimat singkat yang
ada pada Kitab Suci.
Secara tradisionil, umumnya, pada
setiap agama mempunyai ciri-ciri spesifik ataupun berbeda dengan yang lain.
Misalnya :
pada setiap agama ada pendiri utama
atau pembawa ajaran; Ia bisa saja disebut sebagai nabi atau rasul, guru,
ataupun juruselamat
agama harus
mempunyai umat atau pemeluk, yaitu manusia; artinya harus ada manusia yang
menganut, mengembangkan, menyebarkan agama
agama juga
mempunyai sumber ajaran, terutama yang tertulis, dan sering disebut Kitab Suci;
bahasa Kitab Suci biasanya sesuai bahasa asal sang pendiri atau pembawa utama
agama
agama harus
mempunyai waktu tertentu agar umatnya melaksanakan ibadah bersama, ternasuk
hari-hari raya keagamaan
agama perlu
mempunyai lokasi atau tempat yang khusus untuk melakukan ibadah; lokasi ini
bisa di puncak gunung, lembah, gedung, dan seterusnya
3.3 Tujuan
agama
Tujuan suatu agama adalah agar manusia memperoleh keselamatan dari hawa
nafsunya dan menciptakan kecintaan pribadi kepada Allah Yang Maha Kuasa melalui
keimanan kepada eksistensi-Nya dan sifat-sifat-Nya Yang Maha Sempurna
3.4
Problem umat beragama
Pertama, belum seragamnya perlakuan
pejabat daerah dan masyarakat dalam menanggapi keberadaan kelompok yang berbeda
keyakinan.
Kedua, diskusi dan pendidikan
keberagaman yang belum intensif.
Ketiga, masalah komunikasi
antarumat beragama yang masih renggang. "Selain itu, kita juga belum
sepakat tentang definisi agama atau kepercayaan," katanya.
3.5
Toleransi dan kerjasama antar umat beragama
Manusia memang diciptakan
sebagai makluk individu yang juga merupakan sebagai makluk sosial. Sebagai
makluk sosial, manusia juga diwajibkan mampu berinteraksi dengan individu /
manusia lain dalam rangka memenuhi kebutuhan.
Dalam menjalin kehidupan
sosial bermasyarakat, seorang individu juga akan dihadapkan dengan suatu
kelompok – kelompok yang berbeda dengan dirinya. Salah satu perbedaan itu
adalah kepercayaan / agama dan juga suku.
Dalam menjalin kehidupan
sosial, tidak bisa dipungkiri bahwa dalam dinamika kehidupan akan ada suatu
gesekan yang terjadi antar kelompok masyarakat. Baik yang berkaitan
dengan agama atau juga suku. Dalam rangka menjalin persatuan dan kesatuan dalam
masyarakat, maka akan diperlukan sikap saling menghormati dan juga melindungi
sehinga tidak terjadi gesekan – gesekan yang dapat menimbulkan pertikaian dan
juga peperangan.
BAB IV
PELAKSANAAN KEGIATAN
Interview pemuka Agama Buddha
Tanggal : 28 Oktober 2017
Waktu pelakanaan : 17:00 - 19:00
Lokasi : Pusdiklat Buddhis Maitreya Jelambar
Narasumber : Pengabdi/Biarawan
Pada sekitar pukul 17:00 semua anggota berkumpul didepan Pusdiklat Buddhis Maitreya Jelambar.
Kami kemudian menunggu sekitar 30 menit karena Pengabdi sedang mengadakan ibadah. Dalam
sesi itu, kami menanyakan total 15 pertanyaan kepada Pengabdi dalam kurung waktu sekitar 1 jam.
Setelah itu kami diajak berkeliling Pusdiklat untuk mengambil beberapa foto, dan akhirnya kami
mengakhiri pertemuan dengan berfoto di depan patung Buddha.
Interview pemuka Agama Hindu
Tanggal : 09 Desember 2017
Pukul: 12.00-16.00
Lokasi : Pura Aditya Rawamangun
Narasumber : Pemangku
Pada sekitar pukul 12:00 kami berangkat dari rumah/kos masing-masing untuk kemudian bertemu di lokasi Pura. Kami berkumpul sekitar jam 13:30 agak telat karena traffic yang cukup macet pada jam-jam segitu. Kami kemudian menunggu Pemangku untuk menyelesaikan ibadahnya sebentar, dan sekitar pukul 14:15 kami bertemu dengan Pemangku dan langsung melakukan wawancara disebuah ruangan yang telah disiapkan. Kami menyelesaikan wawancara dengan 15 pertanyaan yang sama dalam kurung waktu sekitar 1 jam an dan mengakhiri sesi dengan berfoto didepan Pura.
Interview pemuka Agama Islam
Tanggal : 19 Desember 2017
Pukul : 14.30-16.00
Lokasi : Gedung Yayasan Raudha
Sekitar pukul 14:30 kami berkumpul di kos salah satu anggota kami untuk kemudian berangkat bersama menggunakan mobil salah satu anggota kami. Sekitar pukul 15:15 kami sampai di lokasi. Bapak Ustad kemudian mengajak kami ke sebuah ruangan untuk melaksanakan wawancara. Kami disuguhkan kopi satu per satu untuk menemani kami semua dalam mewawancarai bapak Ustad tersebut. Setelah lebih dari 1 1/2 jam, wawancara pun selesai dan sesi kami akhiri dengan berfoto didepan lokasi.
BAB V
KESIMPULAN/CONCLUSION
Kesimpulan yang kami dapat adalah kebanyakan tokoh agama yang kami wawancarai menilai bahwa toleransi agama di Indonesia masih lumayan lemah dan sangat diperlukan untuk pengembangan atau kemajuan negara. Dan jaman sekarang, tokoh politik juga menjadikan agama sebagai formalitas. Maksudnya adalah tokoh politik menggunakan agama semata-mata untuk mencari keuntungan dalam politiknya agar biar lebih menguntungkan diri sendiri. Cara agar toleransi agama di Indonesia meningkat beragam. Mulai dari yang paling dasar adalah dengan mempelajari agama melalui sumber yang terpercaya dan tidak mudah terhasut dengan hoax-hoax atau isu yang beredar di luar sana. Kemudian kunci lainnya ada berteguh iman, jika iman kita sudah kuat, maka kita tidak akan goyah akan hal-hal yang negatif.
Referensi
http://seputarpengertian.blogspot.co.id/2016/09/pengertian-toleransi-dalam-beragama.html
http://pgsd.binus.ac.id/2017/01/12/in-toleransi-umat-beragama-di-indonesia/
https://www.scribd.com/doc/75850565/Okultisme-Dan-Agama-Suku









